Cooper Flagg Bahas Sulitnya Persaingan di NBA. Menjelang musim reguler NBA 2025-26 yang tinggal sepekan lagi, Cooper Flagg, rookie bintang Dallas Mavericks, bicara terbuka soal sulitnya persaingan di liga terbaik dunia. Dalam wawancara pasca-latihan pramusim pada 5 Oktober 2025, Flagg sebut NBA penuh tantangan seperti spacing yang beda, terminologi rumit, dan kecepatan yang bikin ia sering merasa rushed. Sebagai pick nomor satu draft dari Duke Blue Devils, Flagg sudah rasakan getarannya di dua laga pramusim—cetak rata-rata 10 poin, 6 rebound, dan 3 assist—tapi ia akui adaptasi tak mudah. Pelatih Jason Kidd puji Flagg sebagai “kind of special”, tapi sang rookie sendiri tegas: “Saya harus trust spacing, coaches, dan kerja keras saya.” Ini cerita relatable bagi rookie mana pun, di mana Mavs lagi bangun tim juara Barat pasca-runner-up tahun lalu, dan Flagg jadi kunci potensial bareng Luka Doncic yang pulih cedera. BERITA BOLA
Tantangan Spacing dan Terminologi: Belajar Ritme Baru NBA: Cooper Flagg Bahas Sulitnya Persaingan di NBA
Cooper Flagg tak segan akui sulitnya spacing di NBA, yang bikin ia harus ubah gaya bermain dari college ke pro. Di Duke musim lalu, ia kuasai floor dengan rata-rata 16,5 poin dan 7,5 rebound, tapi di pramusim Mavs, Flagg sebut “ada banyak perbedaan di spacing, terminologi, dan defense”. Saat lawan Thunder, ia sering merasa rushed saat drive karena bek lawan lebih rapat, beda dengan open court di ACC. “Saya harus clean up banyak hal—set stuff, half-court, rotations,” katanya, soroti bagaimana NBA punya istilah baru seperti “bust-out” yang butuh hafalan cepat. Ini tantangan umum rookie: Flagg bilang ia “kadang overthink”, tapi latihan Vancouver akhir September bantu ia trust sistem Kidd yang motion-heavy. Di laga Jazz, spacing-nya jalan saat ia drop pass overhead ke Prosper, tapi lawan Thunder, ia kesulitan karena Thunder’s press bikin turnover hampir. Flagg paham ini proses: “Saya harus confident, trust the work I put in.” Sulitnya ini bikin ia lebih lapar, dan Kidd bilang Flagg “sudah lakukan ini sejak camp”, bukti adaptasi cepat meski persaingan veteran seperti PJ Washington tegang.
Kecepatan dan Intensitas: Merasa Rushed di Transisi NBA: Cooper Flagg Bahas Sulitnya Persaingan di NBA
Salah satu yang paling bikin Flagg kewalahan adalah kecepatan NBA, di mana ia sering “get rushed offensively” dan harus belajar trust coaches lebih dalam. Di pramusim, Flagg rata-rata 3 assist per laga, tapi ia akui “saya kadang terburu-buru, harus trust spacing”. Lawan Jazz, transisi-nya mulus saat blok Gobert jadi fast break, tapi kontra Thunder, kecepatan Holmgren bikin ia kesulitan switch, izinkan poin mudah. “Intensitasnya great, kami compete from the jump di shell drills,” katanya soal latihan pertama, tapi NBA bikin ia sadar persaingan tak kenal ampun—veteran seperti Wallace press full court, beda dengan college. Flagg quote ibunya: “Kalau kamu best di gym, cari gym baru”—filosofi yang bawa ia dari Montverde ke Duke, kini ke NBA. Ini sulitnya: di usia 18, ia hadapi atlet 30-an seperti Doncic, tapi Flagg bilang “it’s surreal tapi fun”. Kidd puji drive-nya, dan Flagg janji “keep it simple, make the right play”. Tantangan ini bikin ia lebih tajam, potensi capai 15 poin rookie year jika Irving lambat pulih.
Mentalitas Compete: Belajar dari Persaingan untuk Jadi Lebih Baik
Flagg bahas sulitnya persaingan NBA sebagai peluang grow, di mana ia harus “compete at a high level” setiap hari. “Kami punya guys locked in, competing high,” katanya soal scrimmage camp, tapi ia akui veteran Mavs seperti Washington bikin ia push limit. Di pramusim, Flagg tunjukkan mentalitas: plus-minus +12 lawan Jazz, +8 kontra Thunder, meski tim kalah. “Saya harus establish identity—rotations, guard way kami,” ujarnya, soroti defense yang butuh komunikasi tim. Ini tantangan besar: dari one-man show di Duke, kini ia belajar team role bareng Doncic. Flagg bilang “sometimes I get rushed, so trust the coaches”—sikap humble yang bikin Kidd sebut ia “relentless”. Persaingan ini tegang: bersaing spot starter dengan Moody, tapi Flagg excited “find new gym” seperti kata ibunya. Ini mental yang bikin ia special, dan prediksi ia Rookie of the Year jika main 20 menit rata-rata.
Kesimpulan
Cooper Flagg bahas sulitnya persaingan NBA dengan jujur—spacing beda, terminologi rumit, kecepatan rushed—tapi ia lihat itu sebagai gym baru untuk grow. Di pramusim Mavs, ia bukti maturity dengan performa solid, dan Kidd tak salah puji ia “special”. Rookie ini siap hadapi Barat kompetitif, duet Doncic untuk gelar. Musim reguler sebentar lagi, Flagg bakal bukti tantangan ini jadi bahan bakar sukses—Mavs, selamat datang bintang baru.