Alasan Cooper Flagg Tidak Puas Dengan Laga Debutnya. Malam Rabu, 22 Oktober 2025, American Airlines Center di Dallas menjadi panggung debut Cooper Flagg yang penuh harapan, tapi berakhir dengan nada getir bagi Dallas Mavericks. Wonderkid berusia 18 tahun itu, pilihan nomor satu draft NBA musim panas lalu, tampil selama 28 menit melawan San Antonio Spurs, catat delapan poin dari tiga tembakan sukses di 11 percobaan, plus empat rebound dan dua assist—tapi timnya kalah 125-92. Di konferensi pers pasca-laga, Flagg tak segan ungkapkan ketidakpuasannya: “Ini bukan malam hebat; saya tahu saya bisa lebih baik.” Ungkapan jujur itu langsung viral, soroti alasan di balik kekecewaannya: shooting buruk, turnover tiga lembar, dan rasa overwhelmed oleh kecepatan NBA. Pelatih Jason Kidd coba tenangkan, bilang ini bagian belajar, tapi bagi Flagg—yang di Duke musim lalu rata-rata 18 poin—debut ini jadi pelajaran pahit. Dengan Mavericks target playoff Barat setelah finalis 2024, ketidakpuasan Flagg jadi cermin: hype besar, tapi realitas liga tak kenal ampun. BERITA BOLA
Shooting Buruk dan Kesalahan Finishing: Alasan Cooper Flagg Tidak Puas Dengan Laga Debutnya
Alasan utama ketidakpuasan Flagg adalah efisiensi tembakannya yang jauh di bawah ekspektasi. Dari 11 percobaan, hanya tiga yang bersarang—dua drive ke ring dan satu tiga poin—hasilkan delapan poin yang terasa minim untuk prospek sekelasnya. Di kuarter kedua, ia lewatkan layup terbuka setelah crossover dribel bagus, peluang yang seharusnya tambah skor jadi 22-18 untuk Mavs. “Saya terlalu buru-buru; finishing di NBA beda dari college,” akunya. Ini kontras dengan musim Duke, di mana ia finis 48 persen tembakan dan 36 persen tiga poin. Di NBA, pertahanan Spurs—dipimpin Victor Wembanyama dengan 40 poin—paksa ia ambil shot sulit, termasuk mid-range yang melebar tipis. Turnover tiga lembarnya picu run 12-0 Spurs, di mana ia over-dribble dan kehilangan bola saat double-teamed. Flagg bilang, “Saya coba ciptakan sendiri, tapi itu kesalahan; harus lebih sabar.” Kidd setuju: “Ia haus, tapi NBA tuntut kesabaran.” Ini ingatkan debut Zion Williamson 2019: shooting buruk awal, tapi rebound jadi fondasi.
Overwhelmed oleh Kecepatan dan Fisik Liga: Alasan Cooper Flagg Tidak Puas Dengan Laga Debutnya
Flagg merasa overwhelmed oleh tempo NBA yang lebih cepat dan fisik, alasan kedua ketidakpuasannya. Di Duke, ia kuasai possession dengan pace 70-an, tapi di pro, Spurs main 102 possession per laga, bikin ia kesulitan adaptasi. “Segalanya lebih cepat; saya tak sempat baca pertahanan,” katanya. Wembanyama, lawan langsungnya, blok satu tembakannya dan rebound atas ia, ciptakan highlight reel yang bikin Flagg frustrasi. Fisik juga tantangan: di usia 18, ia 6 kaki 9 inci tapi baru 215 pon, rentan kontak dari bek berat seperti Keldon Johnson. Empat rebound-nya minim dibanding rata-rata 8 di college, karena ia kalah duel udara 40 persen. Dua assistnya solid—termasuk lob ke Daniel Gafford—tapi ia akui, “Saya terlalu fokus skor, bukan bantu tim.” Ini pola rookie: banyak prospek seperti Scottie Barnes 2021 kesulitan fisik awal, tapi Flagg punya keuntungan: atletisme elite dengan vertical 40 inci. Offseason, ia tambah 10 pon otot, tapi debut tunjukkan butuh waktu.
Mentalitas Rendah Hati dan Harapan Masa Depan
Ketidakpuasan Flagg lahir dari mentalitas rendah hati yang sudah jadi ciri khasnya sejak remaja di Montverde Academy. “Saya tak puas karena tim kalah; poin pribadi tak penting,” tegasnya, tolak puji meski catat double-double di scrimmage preseason. Ini beda dari hype “Zion 2.0” yang bikin tekanan besar—ia pilih nomor 1 draft karena “kesempatan belajar dari Luka Doncic”, tapi cedera Doncic absen awal bikin beban lebih berat. Kidd soroti, “Mentalnya bagus; ia tak bikin alasan.” Harapan masa depan cerah: di Duke, setelah debut lambat kontra Maine (18 poin tapi 6-of-15), ia sapu empat laga berikutnya dengan 25 poin rata-rata. Analis prediksi ia capai 15 poin musim ini, All-Rookie potensial. Laga berikutnya lawan Wizards jadi kesempatan rebound—Flagg bilang, “Besok lebih baik.” Bagi Mavs, debut ini pelajaran: integrasikan Flagg pelan-pelan, rotasi dengan PJ Washington untuk bangun ritme.
Kesimpulan
Alasan Cooper Flagg tidak puas dengan laga debutnya—shooting buruk, overwhelmed fisik, dan turnover—jadi cerita autentik di awal musim 2025/2026, di mana hype besar bertemu realitas keras NBA. Dari delapan poin yang terasa minim hingga jujur di pers, ia tunjukkan mentalitas juara yang langka untuk usia 18. Bagi Mavericks, ini bukan kegagalan, tapi fondasi: Flagg siap belajar, dan dengan Doncic kembali, potensinya tak terbatas. Musim panjang, tapi ketidakpuasan ini justru bikin ia lebih lapar—dan penggemar Dallas boleh yakin, wonderkid Maine ini akan segera mengaum.