Draymond Green Pusing Warriors Kalah Terus. Pada 13 November 2025, Golden State Warriors akhirnya hembuskan napas lega setelah memutus rentetan kekalahan jalanan enam laga beruntun dengan kemenangan meyakinkan 125-120 atas San Antonio Spurs. Namun, di balik euforia itu, Draymond Green, veteran tangguh berusia 35 tahun, tetap tampak pusing dengan performa tim yang naik turun sepanjang awal musim. Sebagai jantung pertahanan Warriors, Green tak segan ungkapkan frustrasinya setelah kekalahan telak 126-102 dari Oklahoma City Thunder dua hari lalu, di mana ia sebut tim kurang komitmen dan terlalu fokus agenda pribadi. Dengan rekor 7-6, Warriors masih bergulat di posisi tengah Barat, dan komentar pedas Green jadi sorotan utama. Ini bukan sekadar kekalahan; ini cerita tentang tim yang haus gelar tapi terjebak dalam kebingungan identitas, di mana peran Green sebagai pemimpin lapangan kini jadi kunci untuk bangkit atau tenggelam lebih dalam. BERITA VOLI
Awal Musim yang Penuh Gejolak: Draymond Green Pusing Warriors Kalah Terus
Musim 2025-26 dimulai dengan optimisme bagi Warriors, yang berharap bangun ulang di sekitar Stephen Curry dan tambahan seperti Buddy Hield serta De’Anthony Melton. Namun, realita cepat pukul muka: setelah tiga kemenangan awal, tim terseret kekalahan beruntun, termasuk lima laga tandang yang bikin rekor jalanan jadi 0-6. Kekalahan terburuk datang di Oklahoma City, di mana Thunder unggul 24 poin sepanjang laga, soroti kelemahan pertahanan Warriors yang bocor 115 poin rata-rata per pertandingan. Curry, meski cetak 25 poin, tak bisa selamatkan tim dari turnover 18 dan rebound kalah 12.
Green, yang kembali dari suspensi musim lalu, tampil solid dengan 10 poin, 7 rebound, dan 5 assist, tapi frustrasinya meledak pasca-laga. “Kami tak terasa seperti tim yang komitmen menang,” katanya di konferensi pers, mata menyipit penuh kekecewaan. Ini bukan pertama kali; sepekan sebelumnya, setelah kalah dari Nuggets, ia sudah kritik energi tim yang kurang. Awal musim ini seperti rollercoaster: kemenangan rumah atas Clippers beri harapan, tapi kekalahan tandang ke Memphis dan Denver buktikan inkonsistensi. Dengan usia rata-rata skuad 29 tahun, Warriors butuh kestabilan, tapi gejolak ini buat Green—yang punya empat gelar juara—pusing hitung cara selamatkan kapal yang bocor.
Komentar Pedas Draymond yang Jadi Sorotan: Draymond Green Pusing Warriors Kalah Terus
Draymond Green tak pernah pelit kata saat timnya goyah, dan kali ini komentarnya lebih tajam dari biasa. Usai kekalahan Thunder, ia sebut “agenda pribadi” jadi racun di ruang ganti, di mana pemain lebih fokus statistik individu daripada kemenangan tim. “Kami harus buang itu semua—kalau tak, musim ini selesai sebelum playoff,” tegasnya, suara bergema di lorong arena. Ini bukan ledakan emosi semata; Green, dengan pengalaman 12 musim, lihat pola: pertahanan switch yang lambat, kurang komunikasi di paint, dan Curry overload karena kurang bantuan dari wing seperti Jonathan Kuminga.
Penggemar dan media langsung ramai: tagar “DraymondRant” trending, dengan banyak yang puji keberaniannya sebagai “suara hati tim”. Tapi ada juga kritik, sebut ia terlalu keras pada pemain muda seperti Trayce Jackson-Davis. Green sendiri akui peranannya: “Saya juga bagian masalah—saya harus lebih baik di vocal leadership.” Komentar ini ingatkan era 2016, saat ia kritik tim usai kekalahan playoff, tapi kini di usia senja karir, tekanannya lebih berat. Pusingnya Green bukan cuma soal skor; ia khawatirkan chemistry yang retak, terutama setelah tambahan Hield yang masih adaptasi dan Melton yang cedera hamstring. Di tengah badai ini, Green jadi mercusuar—pedas tapi jujur—yang bisa selamatkan atau hancurkan semangat tim.
Respon Pelatih dan Upaya Bangkit Tim
Pelatih Steve Kerr, yang kenal Green sejak debut 2012, tak kaget dengan ledakan itu. “Draymond bilang apa yang kami semua rasakan—kami butuh purpose lebih besar,” ujar Kerr usai latihan Rabu, di mana ia tambah drill pertahanan untuk poles switch. Kerr setuju soal energi: Warriors ranking 18 di pertahanan liga, jauh dari standar juara dulu. Responnya konkret: rotasi lebih fleksibel, beri menit lebih ke Kuminga di starting lineup, dan sesi film study fokus kurangi turnover. Curry dukung penuh: “Draymond bicara untuk kami semua—waktunya eksekusi, bukan alasan.”
Upaya bangkit terlihat di kemenangan atas Spurs kemarin, di mana Green catat double-double dengan 12 poin dan 10 rebound, plus tiga steal yang patahkan momentum lawan. Curry ledak dengan 46 poin, dekat rekor Michael Jordan, buktikan tim bisa respons tekanan. Tapi Kerr ingatkan: ini satu laga, bukan akhir masalah. Dengan jadwal padat—tandang ke Phoenix dan Denver minggu depan—tim harus jaga momentum. Green, yang absen dua laga musim lalu karena suspensi, janji fokus: “Saya pusing, tapi itu dorong saya lebih keras.” Respon ini tunjukkan Warriors punya fondasi, tapi butuh konsistensi untuk naik ke top-6 Barat, di mana tim seperti Thunder dan Nuggets sudah gaspol.
Kesimpulan
Frustrasi Draymond Green atas kekalahan beruntun Warriors adalah jeritan hati tim yang sedang cari jati diri di musim transisi. Dari awal gejolak hingga komentar pedas yang jadi panggilan bangun, Green tetap jadi pilar—veteran yang pusing tapi tak menyerah. Dengan kemenangan atas Spurs yang putus streak, ada sinar harap, tapi tantangan Barat tak beri ruang santai. Kerr dan Curry paham: tanpa komitmen kolektif, mimpi playoff bisa pudar. Bagi Green, pusing ini bukan akhir; ia peluang untuk lead seperti dulu, bawa Warriors kembali ke puncak. Di arena Chase Center yang ramai, cerita ini baru babak satu—dan semuanya tunggu Draymond pimpin comeback.